Kenapa Generasi Sahabat Nabi Bisa Mengubah Dunia dalam 23 Tahun, Tapi Miliaran Muslim Hari Ini Tidak?
- calendar_month 15 jam yang lalu
Al-Quran turun kepada mereka satu atau dua ayat sekaligus.
Ibnu Mas’ud berkata: “Kami tidak berpindah ke 10 ayat berikutnya sebelum benar-benar memahami dan mengamalkan 10 ayat sebelumnya.”
Mereka tidak membacanya untuk khatam. Tidak untuk sertifikat hafalan. Tidak sebagai backsound video motivasi. Mereka membacanya seperti menerima instruksi untuk mengubah dunia.
Karena memang itulah yang Al-Quran katakan tentang dirinya sendiri:
14:1 DQ
الرَّكِتُبْ أَنْزَلْنَهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِ
رَبِّهِمْ إِلَى صِرَاطِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ
Alif Lam Ra. (Ini adalah) Kitab yang Kami turunkan kepadamu (Muhammad) agar engkau mengeluarkan manusia dari kegelapan kepada cahaya terang- benderang dengan izin Tuhan, (yaitu) menuju jalan Tuhan Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji.
Bukan setelah mati. Sekarang. Di dunia ini.
Tanpa kita sadari, terjadi pergeseran yang sangat besar. Al-Quran, yang tadinya peta untuk mengubah dunia, berubah menjadi sumber pahala yang dikumpulkan.
Khatam dapat syafaat. Taruh di tempat tinggi agar rumah terlindungi. Dan tiba-tiba Al-Quran bukan lagi tentang bagaimana kita harus hidup, melainkan tentang berapa banyak poin yang bisa kita kumpulkan.
Kita berhasil mengubah firman Allah yang menggetarkan singgasana langit menjadi mesin reward poin.
Sementara korupsi merajalela di antara orang yang hapal Al-Quran. Sementara ketidakadilan dibela oleh orang yang rajin shalat. Sementara kita merasa sudah sangat beragama.
- Penulis: redaksigo
- Sumber: barengquran


